Pages

9 Januari 2012

TEORI PRODUKSI DAN BIAYA PRODUKSI

MAKALAH
PENGANTAR ILMU EKONOMI
TEORI PRODUKSI DAN BIAYA PRODUKSI
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi

Description: F:\Logo_UIN_Syarif_Hidayatullah_Jakarta.jpg
 










Disusun Oleh :
Suchi Wisdhiniati
: 1111015000042
Alfian Hidayat
: 1111015000051
Ida Fitriyani M
: 1111015000062
Imam Munandar
: 1111015000066



JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011


BAB I
PENDAHULUAN
Teori tingkah laku  konsumen memberikan latar belakang yang penting di dalam memahami sifat permintaan pembeli di pasaar. Dari analisis itu sekarang telah dapat difahami alasana yang mendorong para pembeli menaikan permintaannya terhadap suatu barang apabila harganya turun dan mengurangkan pembeliya sekiranya harga naik.
Sekarang sudah tiba waktuna waktunya untuk mengalihkan perhatian kepada persoaaln penawaran, yaitu melihat meliat dan mempelajari sikap para produsen dalam menawarkan barang yang diproduksinya. Bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi penawran adalah biaya produksi. Faktor ini adalah faktor yang sangat penting dalam menentukan penawaran. Baha dalam persaingan sempurna penawaran ditentukan oleh biaya marjinal, yaitu biaya yang dibelanjakan untk satu unit lagi produksi.
Untuk melihat seluk beluk kegiatan perusahaan dalam memproduksi dan menawarkan berangnya diperlukan analisis ke atas berbagai aspek kegiatan memproduksinya. Pertama – tama harus dianalisis sampai dimana faktor – faktor produksi akan digunakan untuk menghasilkan barang yang akan di produksikan. Sesudah itu perlu pula dilihat biaya produksi untuk menghasilkan barang – barang tersebut. Dan pada akhirnya perlu dianalisis bagaimana seorang pengusaha akan membendingkan hasil penjualan produksinya dengan biaya produksi yang dikeluarkannya, untuk menentukan tingkat tingkat produksi yang akan memberikan keuntungan yang maksimum kepadanya.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori Produksi
Produksi adalah suatu kegiatan memproses suatu input (faktor produksi) menjadi suatu output. Faktor produksi
Dalam aktifitasnya produsen (perusahaan) mengubah berbagai faktor produksinya menjadi barang dan jasa. Faktor prduksi dibedakan menjadi faktor produksi tetap (fixed input) dan faktor produksi variable (Variable input).
1.      Fungsi Produksi
Q = f (K,L,R,T)
 
Dalam membahas teori produksi masalah yang sering mendapat perhatian adalah jumlah output, yang selalu ditentukan oleh faktor – faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Hubungan antara tingkat output yang dihasilkan dan tingkat (dan kombinasi) faktor – faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi sering dinyatakan dalam suatu fungsi produksi. Dalam bentuk persamaan, suatu produksi dapat dinyatakan dengan : Q = f (X, X2, X3,...............X n) dimana Q adalah tingkat produksi, sedangkan X, X2, X3,...............X n adalah berbagai faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi atau

Sifat dari suatu fungsi produksi di asumsikan tunduk pada hukum : the Law of Dimishing return, yang menyatakan bahwa bila satu macam faktor produksi ditambah pengunaannya, sedangkan faktor produksi lainnya adalah tetap, maka tambahan produksi yang dapat dihasilkan dari setiap tambahan satu unit faktor produksi, pada awalnya akan meningkat, akan tetapi bila faktor produksi variable tersebut ditambah terus menerus, maka tambahan produksi akan mengalami penurunan.
2.      Dimensi Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Teori Produksi jangka pendek menggambarkan tentang hubungan antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk
menghasilkan berbagai tingkat produksi barang tersebut. Dengan demikian
dalam analisis faktor-faktor lainnya dianggap tetap.
Teori jangka panjang adalah periode dimana semua faktor produksi menjadi faktor produksi variable.
3.      Model Produksi Dengan Satu Faktor Produksi Variable
Teori produksi yang sederhana menggambarkan hubungan antara tingkat output yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja (labor) yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut.
Proses produksi pada umumnya membutuhkan berbagai macam faktor produksi, diantaranya adalah tanahn tenaga kerja dan modal serta bahan mentah. Dalam pembahasan kita sekarang, dianggap hanya terdapat satu faktor produksi variable (faktor produksi yang berubah-ubah jumlahnya) yaitu tenaga kerja, sedangkan faktor produksi lainnya merupakan faktor produksi tetap. Faktor produksi tetap adalah faktor produksi di mana jumlah yang digunakan dalam proses produksi tidak dapat diubah secara cepat dalam jangka pendek, bila keadaan pasar menhendaki perubahan jumlah output. Sedangkan faktor produksi variable adalah faktor produksi di mana jumlahnya dapat diubah – ubah dalam waktu yang relatif pendek sesuai dengan jumlah output yang dihasilkan.
Dalam analisis produksi dengan satu input variable diasumsikan bahwa semua faktor produksi selain tenaga kerja (L) dianggap tetap. Sehingga fungsi produksi dengan satu input variable: Q = f (L) Fungsi Produksi dengan Satu Variabel Tunduk pada “Low of Dimishing Return”
a.       Beberapa konsep produksi
1)      Produksi Total (Total product) adalah banyaknya produksi yang dihasilkan dari penggunaan total faktor produksi. TP = f(K,L) secara matematis TP (Produksi total) akan maksimum apabila turunan pertama dari fungsi nilainya sama dengan nol. Turunan pertama TP adalah MP (MP=TP’) maka TP maksimum pada saat MP sama dengan nol
2)      Produksi Marjinal (marginal product) adalah tambahan produksi karena penambahan penggunaan satu unit faktor produksi.
MP = TP’ =  
Perusahaan / produsen dapat terus menambah tenaga kerja selama MP > 0. Jika MP sudah < 0, penambahan tenaga kerja justru mengurangi produksi total. Penurunan nilai MP merupakan indikasi telah terjadinya hukum pertambahan hasil yang semakin menurun atau the Law of Diminishing Return.
3)      Produksi Rata-rata (average product) adalah rata-rata output yang dihasilkan per unit faktor produksi.
AP=  
Ap akan maksimum bila turunan pertama fungsi AP adalah 0 (nol) (AP’=0). Dengan penjelasan matematis, AP maksimum tercapai pada saat AP = MP, dan MP akan memotong AP pada saat nilai AP maksimum.
           Adapun hubungan dari tiga konsep produksi tersebut adalah sebagaimana di tunjukan pada contoh dibawah ini

Mesin
Tenaga Kerja
Produksi Total (TP)
Produksi Marjinal (MP)
Produksi Rata-Rata (AP)
Tahap Produksi
1
1
5
5
5
Tahap I
1
2
20
15
10
1
3
45
25
15
1
4
80
35
20
Tahap II
1
5
105
25
21
1
6
120
15
20
1
7
126
6
18
1
8
120
-6
15
Tahap III
1
9
106
-12
12
1
10
90
-18
9
Pada hakikatnya The Lawf Dimishing return menyatakan bahwa hubungan antara tingkat produksi dan jumlah input tenaga kerja yang digunakan dapat dibedakan menjadi tiga tahap :
-          Tahap Pertama : Produksi total (total Product) mengalami pertambahan yang semakin cepat, tahap ini dimulai dari titik origin semakin kesatu titik pada kurfa product dimana AP (Produksi rata-rata) maksimum, dan pada titik ini AP=MP (Marginal Product)
-          Tahap kedua : Produksi total (total product) pertambahannya semakin lama semakin kecil. Tahap II ini dimalai dari titik AP maksimum sampai titik dimana MP = 0, atau TP Maksimum
-          Tahap ketiga : Produksi total (Total Product) semakin lama semakin menurun. Tahap III ini meliputi daerah dimana MP negatif/
Dari tabel diatas dapat di presentasikan dalam bentuk diagram atau kurva TP ternyata bergerak membentuk kurva yang mirip huruf S, sehingga disebut kurva S. Hukum pertambahan hasil yang semakin menurun menyebabkan kurva MP berbentuk parabola, sampai menyentuh sumbu horizontal (MP = 0). Jika kurva MP telah lebih rendah dari sumbu horizontal (MP < 0), penambahan tenaga kerja justru menurunkan produksi total (slope Kurva TP) menjadi negatif). Kurva AP bergerak sepola dengan kurva MP. Sebelum titik potong AP dan MP, nilai AP selalu di bawah MP, setelah itu AP diatas MP, nilai AP juga mengalami penurunan akibat pengaruh penurunan nilai MP. Tetapi penurunannya tidak setajam MP, sehingga pada saat MP < 0, AP masih mungkin bernilai positif bahkan tidak pernah negatif.
b.      Perkembangan Tekhnologi
Kemajuan tekhnologi dapat membuat tingkat produktifitas meningkat.
4.      Model Produksi Dengan Dua Faktor Produksi Variable
Dua faktor produksi yang dianggap variable atau dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja (L) dan modal (K). Dalam teori produksi diasumsikan juga, bahwa antara tenaga kerja dan modal dapat dipertukarkan penggunaanya satu sama lain. Modal dapat menggantikan tenaga kerja oleh tenaga kerja dapat menggantikan modal.
Jika upah tenaga kerja dan pembayaran per unit terhadap penggunaan modal diketahui, maka bagaimana caranya perusahaan meminimumkan biaya dalam usahanaya untuk menghasilkan output pada suatu tingkat tertentu dapat diketahui. Disamping itu, dengan sejumlah biaya tertentu bagaimana caranya perusahaan memaksimalkan output juga dilaksanakan. Sedangkan alat analisis yang digunakan untuk memenuhi maksud tersebut adalah dengan menggunakan “kurva isokuan” dan “garis isokos”.
a.       Isokuan (isoquant)
Isokuan (Isoquant) adalah kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi penggunaan dua macam faktor produksi variabel secara efisien dengan tingkat tekhnolgi tertentu, yang menghasilkan tingkat produksi yang sama.
Mesin
Tenaga Kerja
1
2
3
4
5
1
5
20
45
80
105
2
30
45
105
150
135
3
80
105
150
180
150
4
105
135
180
240
210

Kita melihat bahwa tingkat produksi 105 bal tekstil dapat dicapai dengan beberapa kombinasi faktor produksi, yaitu 1 mesin dengan 5 tenaga kerja, 2 mesin dengan 3 tenaga kerja dan seterusnya.
b.      Kurva Anggaran Produksi (Isocost)
Kurva anggaran produksi (isocost) adalah kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi penggunaan dua macam factor produksi yang memerlukan Biaya yang sama. Jika harga factor produksi tenaga kerja adalah upah (w) dan harga factor produksi barang modal adalah sewa ( r ), maka kurva isocost ( I ) adalah :
I = rK + wL
Sudut kemiringan kurva isocost adalah rasio harga kedua factor produksi. Jika terjadi perubahan harga factor produksi, kurfa I berotasi. Jika yang berubah adalah kemampuan anggaran, kurfa isocost bergeser sejajar.
(a)    Rotasi kurva isocost
(b)   Pergeseran kurva isocost



B.     Teori Biaya Produksi
Untuk menghasilkan barang atau jasa diperlukan factor-faktor produksi seperti bahan baku, tenaga kerja, modal, dan keahlian pengusaha. Semua faktor-faktor produksi yang dipakai adalah merupakan pengorbanan dari proses produksi dan juga berfungsi sebagai ukuran untuk menentukan harga pokok barang.
Menurut Sherman Rosyidi, biaya produksi adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat diambil kesimpulan bahwa biaya apa saja yang diperlukan untuk membuat produk, baik barang maupun jasa.
Biaya Produksi dapat dibagi menjadi dua, biaya eksplisit dan biaya implisit Biaya eksplisit adalah biaya-biaya yang secara eksplisit terlihat, terutama melihat laporan keuangan, pengeluaran-pengeluaran nyata dari kas perusahaan untuk membeli atau menyewa jasa-jasa faktor produksi yang dibutuhkan dalam berproduksi. Contoh: biaya tenaga kerja, sewa gedung, dll. Biaya implicit adalah biaya yang tidak terlihat. Biaya implicit ini tidak dikeluarkan langsung dari kas perusahaan. Biaya implicit diperhitungkan dari faktor-faktor produksi yang dimiliki sendiri oleh perusahaa, bisa disebut juga dengan biaya kesempatan (oportunity cost) Contoh: Penggunaan gedung milik perusahaan sendiri.
1.                  Konsep Biaya
a.       Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja adalah Biaya yang harus di keluarkan untuk menggunakan tenaga kerja per orang per satuan waktu.  
b.      Biaya barang modal
Ada perbedaan konsep antara Biaya ekonom dan akuntan dalam perhitungan Biaya barang modal. Akuntan menggunakan konsep Biaya historis (Historical cost). Ekonom melihat Biaya barang modal bukanlah berapa besar uang yang harus dikeluarkan untuk menggunakannya, melainkan berapa besar pendapatan yang diperoleh bila mesin disewakan kepada pengusaha lain.
c.       Biaya kewirausahaan
Wirausaha (pengusaha) adalah orang yang mengkombinasikan berbagai factor produksi untuk di transformasi menjadi output berupa barang dan jasa. Dalam upaya tersebut, dia harus menanggung resiko kegagalan. Atas keberanian menanggung resiko, pengusaha mendap balas jasa berupa laba. Makin besar (tinggi) resikonya, laba yang diharapkan harus makin besar. Begitu juga sebaliknya.
2.      Jenis – jenis Biaya Produksi
a.      Berdasarkan Periode Produksi
Periode produksi diperusahaan dibagi menjadi :
1)      Biaya Jangka Pendek
a)      Biaya tetap (Fixed Cost, FC)
Biaya tetap adalah biaya yang timbul akibat penggunaan sumber daya tetap dalam proses produksi. Sifat utama biaya tetap adalah jumlahnya tidak berubah walaupun jumlah produksi mengalami perubahan (naik atau turun). Keseluruhan biaya tetap disebut biaya total (total fixed cost, TFC)



Kurva Total Biaya Tetap
K
b)      Biaya Variable  (Variable Cost, VC)
Biaya variable atau sering disebut biaya variable total (total variable cost,TVC) adalah jumlah biaya produksi yang berubah menurut tinggi rendahnyajumlah output yang akan dihasilkan. Semakin besar output atau barang yang akan dihasilkan, maka akan semakin besar pula biaya variable yang akan dikeluarkan.

c)      Biaya Total (Total Cost, TC)
Biaya Total adalah keseluruhan biaya yang terjadi pada produksi jangka pendek. Biaya diperoleh dari
TC = TFC – TVC
TFC     = Biaya tetap
TVC    = Biaya Variable



Kurva biaya total


d)     Biaya Rata – Rata
Biaya rata – rata terdiri dari:
i.          Biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost, AFC) adalah hasil bagi antara biaya tetap total dan jumlah barang yang dihasilkan. Rumus AFC adalah
Keterangan : TC   = Total cost ( Biaya rata – rata)
                     Q     = Quantity jumlah
Besar kecilnya AFC tergantung dari jumlah barang yang dihasilkan. Artinya, jika barang yang dihasilkan semakin banyak, maka AFC akan semakin kecil (berbanding terbalik). Hal ini juga mengisyaratkan bahwa pada unit produksi yang banyak AFC akan terlihat besar, sedangkan pada  unit produksi yang banyak AFC akan kecil jumlahnya. Kurva AFC bergerak dari sisi kiri atas kanan bawah.
ii.        Biaya Variable rata – rata (Avarage Variable Cost, AVC)
Variable satuan unit produksi. Rumusnya :
Keterangan : TVC = Total Variable cost
Kurva AVC akan menurun karena tergantung kepada besar kecilnya output (Q).
iii.      Biaya total rata – rata (Average Cost, AC) adalah baiaya persatuan unit output (produksi)

AC = AFC + AVC

e)      Biaya Marginal (Marginal Cost, MC)
Biaya Marginal adalah perubahan biaya total akibat penambahan satu unit output (Q). Biaya marginal timbul akibat pertambahan satu unit output sehingga dapat dirumuskan:
Oleh karena tambahan produksi satu unit output tidak akan menambah atau mengurangi biaya produksi tetap (TFC), maka tambahan biaya marginal ini akan menambah biaya variable total (TVC).
2)      Biaya Jangka Panjang
Jangka panjang dalam pengertian ini tidak terkait dengan waktu. Penyebutan jangka panjang oleh para ekonom menandai suatu proses produksi dimana sumber daya yang digunakan tidak ada lagi yang bersifat tetap. Semua sumber daya yang digunakan dalam proses produksi bersifat variable atau jumlahnya dapat berubahubah. Produksi dalam jangka panjang memungkinkan perusahaan untuk mengubah skala produksi (tingkat produksi) dengan cara mengubah, baik mengubah maupun mengurangi jumlah sumberdaya. Hal ini tentu akan berdampak pada biaya yang ditimbulkan. Dalam jangka panjang hanya dikenal biaya total rata-rata (ATC).
b.      Berdasarkan Biaya Total dan Biaya Rata – Rata
1)      Biaya – Biaya Total
Terdiri dari :
-          Total biaya tetap (TFC)
-          Total Biaya Variable (TVC), dan
-          Total Biaya (TC)
TC = TFC + TVC
Contoh:
Output
(1)
TFC
(2)
TVC
(3)
TC
(4)
0
100
0
100
1
100
50
150
2
100
75
175
3
100
90
190
4
100
120
220
5
100
125
225

Bila digambarkan akan terlihat sebagai berikut
2)      Biaya Rata – Rata
Merupakan biaya yang terjadi per satuan output. Baik biaya tetap, biaya variable, maupun biayatotal memiliki biaya rata-rata. Biaya rata-rata ntuk biaya tetap adalah rata-rata biaya tetap (AFC), untuk biaya variable dalah rata-rata biaya variable (AVC), dan untuk biaya total adalah rata-rata biaya total (ATC).


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Produksi dan biaya produksi bagaikan kepingan mata uang logam berisi dua. Jika produksi berbicara tentang nilai fisik penggunaan faktor produksi, biaya mengukurnya dengan nilai uang. Dalam ekonomi yang sudah modern, dimana peranan uang amat penting, maka ukuran efisiensi yang paling baik (walaupun bukan paling lengkap) adalah uang. Sesuatu yang efisien secara teknis, belum tentu secara finansial dan ekonomi menguntungkan.
Dalam aktifitasnya produsen (perusahaan) mengubah berbagai faktor produksinya menjadi barang dan jasa. Faktor prduksi dibedakan menjadi faktor produksi tetap (fixed input) dan faktor produksi variable (Variable input).
Untuk menghasilkan barang atau jasa diperlukan factor-faktor produksi seperti bahan baku, tenaga kerja, modal, dan keahlian pengusaha. Semua faktor-faktor produksi yang dipakai adalah merupakan pengorbanan dari proses produksi dan juga berfungsi sebagai ukuran untuk menentukan harga pokok barang.
Biaya produksi adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat diambil kesimpulan bahwa biaya apa saja yang diperlukan untuk membuat produk, baik barang maupun jasa. Biaya Produksi juga di bagi menjadi dua, biaya eksplisit dan biaya Implisit





DAFTAR PUSTAKA
Pratama Rahardja, 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi Edidi Ketiga. LPFE-UI, Jakarta
Ari Sudarman, 1994. Teori Ekonomi Mikro Jilid I. BPFE-UGM, Yogyakarta.
Sadono Sukirno. 2000. Pengantar Mikroekonomi. Raja Grafindo Persada, Jakarta

1 komentar:

  1. kita juga punya nih artikel mengenai 'Biaya Produksi', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/6236/1/JURNAL.pdf
    trimakasih
    semoga bermanfaat

    BalasHapus

 

Blogger news

About